Mitos paling umum yang diyakini generasi tua adalah bahwa anak lulusan Saintek (seperti Kedokteran atau Teknik) memiliki jalan karir yang pasti, sementara lulusan Soshum dianggap bakal kesulitan mencari kerja.
Faktanya:
Di era modern, anggapan ini makin tidak relevan. Lulusan Saintek pun belum tentu menjamin langsung mendapatkan pekerjaan jika tidak memiliki adaptability yang baik. Dunia kerja saat ini justru membutuhkan soft skills kritis dari lulusan Soshum: critical thinking, kemampuan analisis data sosial, komunikasi empatik, dan pemahaman perilaku manusia—keterampilan yang sangat dicari di industri teknologi modern (seperti UX Research, Product Management, hingga Data Analysis).
Secara historis, stigmatisasi Soshum sebagai "jurusan kelas dua" merupakan produk dari stratifikasi pendidikan era Orde Baru.
Pada masa pembangunan nasional zaman Orde Baru, pemerintah sangat memprioritaskan pembangunan fisik dan infrastruktur. Akibatnya, siswa yang masuk ke jurusan IPA diagungkan sebagai "anak pintar" yang diproyeksikan menjadi teknokrat dan insinyur. Sementara jurusan IPS diwacanakan sebagai tempat penampungan siswa yang kurang berprestasi akademis.
Generasi orang tua kita tumbuh dalam ekosistem kultural ini, sehingga persepsi prestise tersebut terbawa dan terpatri hingga hari ini.
Ada teori menarik yang sering dibicarakan di kalangan akademisi: ilmu sosial mengajarkan orang untuk bersikap kritis terhadap struktur kekuasaan dan ketimpangan sosial.
Ilmu Soshum membedah bagaimana kebijakan dibuat, bagaimana propaganda bekerja, dan mengapa ketidakadilan bisa terjadi. Seseorang yang memahami ilmu sosiologi dan politik tidak akan mudah ditipu oleh narasi politik atau kebijakan pemerintah yang cacat. Kekritisan inilah yang secara historis sering dianggap "membahayakan" atau "membuat hidup susah" oleh generasi tua yang cenderung menginginkan anak-anak mereka hidup aman di jalur konvensional.
Memilih Soshum bukanlah keputusan mundur, melainkan langkah strategis di dunia yang semakin kompleks. Kompleksitas peradaban manusia tidak hanya diselesaikan dengan rumus fisika atau baris kode komputer, tetapi juga pemahaman mendalam tentang manusia itu sendiri.
Bagi kamu yang saat ini sedang berjuang meyakinkan orang tua untuk memilih jurusan Soshum: berikan bukti bahwa dunia telah berubah, dan pemikir sosial yang kritis adalah salah satu aset terpenting bagi masa depan.